Tantangan Pendidikan di Indonesia – Selain dampak negatif yang kita alami selama pandemi COVID-19, juga mempunyai sisi positif karena percepatan perkembangan teknologi memberikan banyak peluang baru bagi sektor pendidikan dan juga perekonomian. Mengapa demikian? Pasalnya, mayoritas aktivitas masyarakat sudah mulai beralih ke dunia digital. Alhasil, sumber daya yang dibutuhkan di era digital seperti saat ini semakin banyak peluang yang bisa kita manfaatkan.

Namun sayangnya kita masih belum bisa memanfaatkan sumber daya yang ada secara maksimal karena masih menghadapi berbagai tantangan. Lantas, apa saja tantangan dan upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia? Mari kita lihat lebih lanjut!

Situasi pandemi ini tidak hanya melahirkan banyak inovasi pembelajaran digital dan investasi pada teknologi pendidikan (EdTech), namun juga memperlebar kesenjangan pendidikan bagi banyak siswa sehingga menjadikan kondisi ini sebagai tantangan yang tidak dapat dihindari. Diantaranya adalah:

1. Guru belum siap menggunakan teknologi

Banyak siswa dan guru berpenghasilan rendah tidak memiliki alat atau keterampilan digital yang diperlukan untuk pembelajaran berbasis digital atau online ini. Berdasarkan data UNICEF, pada tahun 2020, sebanyak 67% guru melaporkan kesulitan dalam mengoperasikan perangkat dan menggunakan platform online dalam proses pembelajaran.

Baca juga: 3 Tantangan dan Solusi Pendidikan Remaja Masa Kini Menghadapi Era Digital

2. Kesenjangan Pengetahuan dan Kemampuan dalam Teknologi

Faktor penyebab kesenjangan pengetahuan dan kemampuan pendidik dan peserta didik tidak terlepas dari infrastruktur yang tidak merata dan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Hal ini didukung oleh hasil studi Badan Pusat Statistik pada tahun 2012-2018 yang menyatakan bahwa rata-rata pengguna internet di perdesaan hanya berkisar 40-48% dan sangat berbeda dengan akses internet di perkotaan yaitu sekitar 72%. .

3. Keterampilan Digital yang Terbatas

Dengan terbatasnya keterampilan digital, guru tidak dapat memantau pembelajaran siswa atau berkomunikasi secara efektif. Seperti kesulitan dalam mengawasi anak saat belajar dari rumah juga berdampak pada menurunnya hasil belajar, hingga siswa putus sekolah. Di tahun 2020 ini, banyak siswa dan orang tua yang mengaku belum mendapat “feedback” dari guru terkait tugas atau ujian yang diberikan.

4. Ancaman kejahatan dunia maya

Kesadaran dan pengetahuan mengenai literasi digital dan keamanan digital masih cukup rendah sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kejahatan siber. Cybercrime sendiri merupakan suatu tindakan kejahatan yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet. Contohnya seperti ujaran kebencian, penyebaran hoax, cyber bullying, cyber harassment, dan lain sebagainya yang berdampak negatif terhadap perkembangan moral peserta didik dan merosotnya pendidikan karakter di Indonesia.

Oleh karena itu, diperlukan peran pendidik atau guru untuk membentuk karakter peserta didiknya dengan baik. Salah satu solusi paling efektif dalam menangani kejahatan siber di Indonesia adalah literasi digital.