STRATEGI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN TINGGI – Saya sbobet88 merasa terhormat untuk berbagi pengalaman saya dalam mengembangkan strategi sebagai universitas dengan sejarah unik di bidang ilmu pertanian. Dalam tulisan ini dipaparkan pandangan IPB sebagai perguruan tinggi pertanian dalam menghadapi tantangan bangsa dan memenuhi kebutuhan pangan sebagai permasalahan besar di masa depan melalui upaya mengembangkan berbagai program untuk menghasilkan inovasi dan menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

Demografi dan Implikasi Globalisasi

Pada tahun 2019, populasi dunia diperkirakan mencapai 7,5 miliar jiwa. Kebutuhan dunia akan pangan, energi, air bersih dan perumahan; akan meningkat. Dengan jumlah penduduk sebanyak 253,6 juta jiwa, pada tahun 2014 India menduduki peringkat keempat terbesar dalam hal jumlah penduduk setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Bahkan pada tahun 2035, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai lebih dari 305 juta jiwa. Struktur demografi Indonesia relatif sehat, terkonsentrasi pada usia produktif atau pada rentang usia 15-64 tahun. Jumlah ini mewakili 67,9 persen dari total penduduk dan meningkat dari angka tahun 2010 sebesar 66,5 persen.

Baca juga: KOLABORASI PENDIDIKAN DAN INDUSTRI UNTUK MENJAWAB TANTANGAN SAAT INI

Perekonomian Indonesia dan Pembangunan Sumber Daya Manusia

Dalam konstelasi dunia, kita merupakan negara yang menjadi salah satu pusaran perdagangan dunia. Sebagai negara maritim dengan tiga jalur transportasi dunia, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak dikunjungi kapal laut. Tapi ini tidak membawa manfaat apa pun bagi kita. Indonesia bahkan harus menjamin keselamatan armada negara lain yang bebas menggunakan perairan kita.

Indonesia diprediksi oleh McKinsey Global Institute akan menjadi negara ketujuh terbesar dalam hal ukuran ekonomi di dunia pada tahun 2030. McKinsey Global Institute juga memaparkan potensi dan peluang negara serta tantangan dan permasalahan yang dihadapi. Perekonomian Indonesia saat ini berada di peringkat 16 dunia, dengan 45 juta konsumen di kelas konsumen, 53% penduduk perkotaan menyumbang 74% PDB, 55 juta pekerja terampil, pangsa pasar US$ 0,5 triliun di sektor jasa, pertanian. . . . dan perikanan, sumber daya energi dan pendidikan.

Tantangan dalam Memenuhi Kebutuhan Pangan

Sebelum menjelaskan peran dan spaceman slot strategi pendidikan tinggi dalam mencetak individu-individu unggul yang berdaya saing global, ada isu besar yang patut kita perhatikan, yaitu pangan. Permasalahan pangan merupakan permasalahan yang sangat penting bagi suatu bangsa. Tidak mungkin setiap bangsa mampu membangun sumber daya manusia yang unggul jika permasalahan kecukupan pangan dan gizi masih menjadi permasalahan utama. Bung Karno pernah mengingatkan betapa pentingnya hal tersebut. Pada saat peletakan batu pertama pembangunan kampus Institut Pertanian Bogor pada tahun 1952, Bung Karno mengatakan: “…soal pangan bagi rakyat, bagi kita adalah persoalan hidup atau mati. Pertajam, pertajam dengan sungguh-sungguh. Apalagi jika kita tidak “mendemonstrasikan” permasalahan pangan rakyat secara masif, radikal, dan revolusioner, maka kita akan mengalami bencana…”

Pernyataan Bung Karno agaknya ada benarnya saat ini, apalagi jika kita melihat bagaimana upaya penyediaan pangan harus mengimbangi pertumbuhan penduduk yang bergerak sangat cepat. Indonesia pernah mengalami masa-masa sulit terkait masalah pangan ini karena impor beras mencapai angka tertinggi (6,077 juta ton) pada tahun 1998 ketika krisis moneter terjadi. Impor beras yang mencapai rekor tertinggi menjadi pemicu kerusuhan dan mengganggu stabilitas nasional.

Upaya Menjunjung Kedaulatan Pangan

Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia harus mempunyai strategi besar dalam membangun sistem produksi pangan yang kuat agar bebas dari ketergantungan pangan impor. Tanah air tropis kami memungkinkan kami memproduksi makanan sepanjang tahun. Kita dapat membangun sistem produksi pangan yang berketahanan dengan mengerahkan seluruh sumber daya dan kemampuan yang ada untuk memproduksi kebutuhan pangan kita sendiri, baik dari segi variasi dan volume serta kapan tersedia. Jika Indonesia bisa membangun sistem produksi pangan yang kuat, maka kita juga bisa membantu negara-negara lain di dunia yang mengalami kesulitan di bidang pangan. Dengan demikian, strategi besar kita di bidang produksi pangan tidak akan terpaku pada penanganan permasalahan yang bersifat jangka pendek dan terbatas pada komoditas tertentu saja, namun akan bersifat jangka panjang dengan cakupan yang lebih luas sehingga lebih berketahanan ( Suhardiyanto 2012).