Bulan: Agustus 2023

Pembelajaran dan Keterampilan Berbasis Proyek

Pembelajaran dan Keterampilan Berbasis Proyek – Project Based Learning merupakan suatu pendekatan Mahjong Ways 2 pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam pengetahuannya sekaligus mengembangkan keterampilan melalui kegiatan pemecahan masalah dan investigasi.

Model pembelajaran PjBL (Project Based Learning) ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir saja, namun lebih menekankan pada proses bagaimana siswa dapat menyelesaikan permasalahannya hingga akhirnya menghasilkan suatu produk. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk mendapatkan pengalaman berharga dengan berpartisipasi aktif dalam proyek mereka. Hal ini tentu saja lebih menantang daripada hanya duduk diam mendengarkan penjelasan guru atau membaca buku lalu mengerjakan kuis atau ulangan.

Prinsip dalam Pembelajaran Berbasis Proyek

Berawal dari Sebuah Masalah atau Pertanyaan

Pembelajaran berbasis proyek selalu dimulai dengan masalah atau pertanyaan. Soal-soal yang harus diselesaikan harus memiliki tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan tingkat siswa.

Baca juga: 3 Cara Menjadikan Pendidikan Sebagai Solusi Perubahan Iklim

Otentik & Relevan

Proyek yang dikerjakan siswa harus memuat pertanyaan-pertanyaan di dunia nyata atau yang relevan dengan situs slot dana pengalaman siswa. Siswa dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama belajar dengan manfaat atau kegunaannya di dunia nyata.

Kebebasan untuk Memilih

Metode pembelajaran berbasis proyek hendaknya memberikan kebebasan kepada siswa untuk menentukan strategi pemecahan masalah, produk apa yang akan dihasilkan, dan juga bagaimana cara menghasilkan produk tersebut.

Refleksi diri

Dalam Pembelajaran Berbasis Proyek siswa diharapkan mampu merefleksi semua pengalaman yang telah diperolehnya selama mengerjakan proyeknya. Kemudian siswa mampu menyimpulkan pelajaran berharga apa yang dapat diambil selama proses pembelajaran berbasis proyek.

Memasuki

Metode pembelajaran berbasis proyek juga mengajarkan siswa untuk dapat memberi dan menerima masukan slot server kamboja atas proyek yang sedang mereka kerjakan. Dengan demikian mereka tidak hanya belajar dari guru mereka tetapi dapat belajar dari satu sama lain dan teman-teman mereka.

Presentasi

Pada akhir proses pembelajaran berbasis proyek, siswa harus mampu mempresentasikan temuan atau produknya di hadapan teman sekelasnya atau bahkan di hadapan masyarakat umum. Selain membahas proyek, diharapkan seluruh siswa mampu menarik kesimpulan dari apa yang telah dipelajari dan juga dipraktikkan.

3 Cara Menjadikan Pendidikan Sebagai Solusi Perubahan Iklim

Menjadikan Pendidikan Sebagai Solusi Perubahan Iklim – Sebagai generasi yang hidup di Bumi di masa depan, anak-anak perlu menyadari bahwa situasi Bumi semakin kritis. Pemanasan global sekitar 1,2°C sejak 150 tahun lalu telah mengakibatkan berbagai dampak buruk bagi kehidupan: cuaca ekstrem, kebakaran hutan, pemanasan lautan, hingga penurunan keanekaragaman hayati. Kami telah mengalami beberapa di antaranya.

Perubahan suhu global berisiko menyebabkan perubahan iklim yang lebih drastis pada tahun 2050. Dampaknya bisa lebih parah, dan anak-anaklah yang paling berisiko.

Nah, pendidikan bisa menjadi pintu masuk bagi anak untuk mengenali situasi dan risiko tersebut. Studi menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan yang berkualitas dapat meningkatkan kesadaran iklim, tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk “menularkannya” kepada orang tua dan keluarga mereka. Peran ini sangat penting, apalagi bagi Indonesia yang hanya 47% penduduknya yang meyakini bahwa pemanasan global disebabkan oleh ulah manusia.

Kami mencoba melakukan review singkat terhadap dokumen Capaian Pembelajaran Kurikulum Mandiri yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek. Dokumen ini merupakan seperangkat arahan materi dan kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari usia dini hingga menengah.

Secara umum, kami menemukan perubahan iklim dan literasi energi tercantum pada sejumlah mata pelajaran di semua jenjang pendidikan, dengan berbagai kata kunci, antara lain: pemanasan global, perubahan iklim, energi alternatif, dan energi terbarukan.

Namun arahan dalam berbagai Capaian Pembelajaran tersebut belum berhasil diterjemahkan menjadi sesuatu yang dekat dan relevan dengan peserta didik. Sekolah sering mengambil contoh yang jauh, tidak relevan, dan parsial.

Misalnya ajakan melakukan 3R (reduce, reuse, recycle) tanpa melihat aspek konsumsi berkelanjutan di dalamnya. Ada pula sasaran agar siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) memahami teknologi pengolahan produk dan pengujian mutu pertanian di tengah perubahan iklim. Padahal, tidak semua SMK tersebut memiliki fasilitas seperti laboratorium dan akses internet yang baik.

Indonesia perlu memperkuat pendidikan perubahan iklim di sekolah sejak dini. Menurut hemat kami, setidaknya ada tiga langkah perbaikan yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan sekolah. Harapannya, siswa dapat mengetahui langkah-langkah terbaik sejak dini untuk menghadapi dampak perubahan iklim, atau beradaptasi di ruang hidup masing-masing.

1. Perbanyak materi pembelajaran tentang perubahan iklim

Pemerintah perlu memperbanyak materi pembelajaran tentang krisis iklim pada mata pelajaran dalam kurikulum. Kami mencoba melakukan review awal terhadap dokumen Learning Outcomes dengan menggunakan kata kunci “climate change”. Akibatnya, istilah perubahan iklim disebutkan sebanyak 64 kali, dan tercakup dalam 32 topik dalam pokok bahasannya.

Sayangnya, mayoritas (28 topik) adalah mata pelajaran kejuruan. Selebihnya tersebar di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Padahal, jumlah SMK hanya sekitar 3,2% dari total 443 ribu sekolah di Indonesia.

2. Pembelajaran berbasis proyek

Kurikulum Merdeka mewajibkan sekolah menggunakan 20-30% waktunya untuk menyelenggarakan pembelajaran berbasis proyek, dengan model Proyek Penguatan Profil Siswa Pancasila.

Proyek ini memuat isu lingkungan sebagai pilihan tema yang dapat diangkat yaitu “Sustainable Lifestyle”. Penerapannya berbeda-beda sesuai dengan tingkat pendidikan. Proyek dapat menjadi alat yang ampuh untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang isu-isu perubahan iklim. Hal ini dikarenakan siswa diharapkan lebih aktif dalam mencari informasi, melihat masalah, merancang proyek, dan melaksanakan rencana tersebut secara individu atau kelompok. Proyek juga dapat mengintegrasikan ilmu alam dan sosial ke dalam kegiatan yang dilakukan.

3. Kerjasama antar pihak

Pemerintah perlu membuka ruang kerjasama dengan berbagai pihak untuk memperkuat pendidikan perubahan iklim di sekolah. Beberapa pihak tersebut, misalnya organisasi aktivis lingkungan hidup, dapat menambah dan mengembangkan lebih banyak materi pengetahuan bagi guru secara gratis di platform Merdeka Mengajar.

Sektor swasta juga dapat berkontribusi dengan menyediakan program pemagangan untuk menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, terutama memperkenalkan lebih banyak peluang kerja ramah lingkungan dan memaparkan mereka pada permasalahan dunia nyata. Sekolah, universitas, dan perusahaan dapat bekerja sama untuk mewujudkannya.